Indonesia Perlu Investasi Genset untuk Penanganan Banjir

Indonesia Perlu Investasi Genset untuk Penanganan Banjir

Rajawalindo.com Grundfos, yang dikenal sebagai pemimpin global dalam solusi pompa, bersama dengan Eco-Business, perusahaan sosial yang berfokus pada keberlanjutan, merilis hasil studi terbaru berjudul ‘Flood Controls in Southeast Asia’ (Kontrol Banjir di Asia Tenggara) di Jakarta, Selasa (24/10/2017). Studi itu berdasarkan survey terhadap 417 pemimpin industri keberlanjutan di Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Salah satu temuan penting dalam studi itu adalah sekitar 86% praktisi keberlanjutan lintas sektor di Indonesia percaya bahwa cuaca ekstrem dan perubahan iklim bisa berdampak signifkan pada perekonomian negara. Perubahan iklim dan meningkatnya suhu global diperkirakan berdampak pada tinggi permukaan laut dan intensitas curah hujan, menimbulkan persoalan cukup serius untuk daerah tropis seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan laporan Organisation for Economic Co-operation and Development, pada 2070, kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Palembang, Surabaya dan Makassar diproyeksikan akan kehilangan aset senilai total USD 453 miliar yang disebabkan oleh cuaca buruk seperti banjir, di mana Jakarta sendiri diperkirakan akan mengalami kerugian sebesar USD 321 miliar. Hasil penelitian ini juga memperkuat data tersebut dengan menyatakan bahwa 60% responden percaya Indonesia akan menghadapi kondisi cuaca dan iklim yang jauh lebih ekstrem pada dekade berikutnya. Sebanyak 46% – 48% responden juga merasa bahwa Indonesia belum secara efektif melengkapi diri untuk menghadapi perubahan iklim ataupun mengalokasikan sumber daya dan pendanaan yang memadai untuk mengurangi ancaman bencana tersebut. Menurut Tim Hill, Research Director di Eco-Business Research, para responden mengakui suhu rata-rata dan curah hujan telah meningkat di Indonesia. Mereka juga merasa bahwa musim hujan dan musim kemarau menjadi kurang bisa diprediksi. Sementara Pemerintah Indonesia menjalankan berbagai solusi mitigasi banjir, responden merasa terdapat kebutuhan lebih banyak sumber daya dan dana untuk diinvestasikan di area ini.

 

Peningkatkan partisipasi masyarakat juga dibutuhkan, terutama dalam pembebasan lahan dan pengelolaan lingkungan. Tim juga menekankan, diperlukan kolaborasi lebih lanjut antar-kementerian dan antarlembaga di Indonesia untuk memastikan perencanaan terpadu demi pengelolaan banjir yang efektif. Responden juga menyarankan adanya kolaborasi lintas batas geografs dengan negara-negara tetangga karena risiko perubahan iklim juga dihadapi oleh sebagian besar negara di Asia Tenggara. Allan Jessen, SIMP Project Sales Director, Grundfos, mengatakan, “Banjir adalah masalah umum yang dihadapi sebagian besar wilayah dataran rendah di kota-kota besar di Asia Tenggara dan di sebagian besar kota besar di Indonesia. Hal ini diperparah oleh tingginya pertumbuhan penduduk, tingkat curah hujan tahunan yang tinggi dan keterbatasan ruang. Penurunan permukaan tanah disertai industrialisasi dan urbanisasi semakin memperburuk situasi.” Allan mengingatkan bahwa tidak mudah mengatasi rentetan persoalan seperti ini, sehingga sangat penting untuk dapat meminimalisir kerusakan akibat banjir melalui pengelolaan sumber daya air terpadu. “Penerapan teknologi cerdas seperti sensor, grafk animasi hujan, dan solusi pemompaan cerdas adalah kunci untuk menanggulangi banjir di Indonesia,” ujarnya menyarankan.

 

Salah satu alat yang dibutuhkan untuk memompa banjir adalah genset. Genset sangat dibutuhkan di lokasi banjir untuk memompa air agar mengalir ke tempat yang telah di tentukan. Salah satu supplier genset surabaya siap menjadi supplier genset untuk keperluan penanganan banjir

Leave a Reply